‘Tong Sampah’ di Teluk Tomini Parigi Moutong, Pemerhati Lingkungan: Merubah, Sosialisasi Bukan Solusi

Tampak tumpukan sampah yang berserakan di pantai Pelabuhan Parigi. Foto kondisi sampah ini diambil beberapa bulan sebelumnya. (Foto: akun facebook Eky)

JURNAL LENTERA – Merubah mindset pola pikir masyarakat secara luas terhadap aktifitas membuang sampah disembarang tempat adalah hal yang tak mudah dan perlu dilakukan dengan memberikan edukasi secara intens. Bukan hanya dengan sosialisasi yang tidak memberikan solusi.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang disebut-sebut sebagai penyumbang sampah terbesar ke negara tetangganya melalui laut.
Wajar, jika penanganan dan upaya merubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah disembarang tempat masih sangat sulit dilakukan.

Contoh kecilnya di Kabupaten Parigi Moutong, yang merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tengah, dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 472 kilo meter, yang sebagian besar masyarakatnya bermukim di pesisir pantai masih sering menjadikan laut sebagai ‘Tempat Akhir Pembuangan Sampah’.
Wajar, jika perairan Teluk Tomini Parigi Moutong yang disebut-sebut sebagai penghasil ikan terbesar banyak ditemukan sampah.

Tak heran, jika banyak yang berpendapat, perairan Teluk Tomini Parigi Moutong diumpamakan sebagai ‘Tong Sampah’ terbesar.

Bahkan, pemandangan membuang sampah di laut oleh masyarakat masih sangat sering kita jumpai di pesisir pantai Kota Parigi dan sekitarnya.

Kondisi itu, juga menarik perhatian dari sejumlah pemerhati lingkungan yang ada di Parigi Moutong.
Salah satunya, Suwitno yang akrab disapa Eki.

Selain aktif sebagai pemandu wisata Diving, Eki, juga tak bosan-bosan untuk terus mengkampanyekan tidak membuang sampah di laut.

Menurutnya, potensi Teluk Tomini Parigi Moutong sangat banyak.
Selain memiliki hasil laut yang melimpah, perairan Teluk Tomini Parigi Moutong juga memiliki potensi wisata bawah laut yang tak kalah menarik dengan daerah lainnya.

Tidak heran, jika sebelum seluruh wilayah di Indonesia dilanda pandemi COVID-19, Parigi Moutong kerap dikunjungi wisatawan asing yang datang hanya untuk melakukan aktifitas Diving.

Tidak hanya itu, menurut para wisatawan asing dari beberapa negara seperti Jerman, Perancis, dan Thailand yang pernah didampingi mengaku terkagum-kagum dengan keindahan bawah laut Teluk Tomini Parigi Moutong.

Namun, kekaguman itu, seketika berubah dengan masih banyaknya sampah di laut.
Ditambah lagi, para wisatawan asing juga sangat tidak menyukai adanya sampah di laut.

Dia juga berpendapat, masyarakat Parigi Moutong sangat banyak yang menyukai keindahan, baik objek wisata pantai maupun pegunungan.

Namun, dibalik rasa suka akan keindahan alam bebas itu, justru terdapat budaya membuang sampah disembarang tempat.

Parahnya, masyarakat yang datang berkunjung ke lokasi objek wisata justru sengaja membuang sampah disembarang tempat.
Kebiasaan itu, menurutnya masih sangat sering dijumpai di pantai-pantai.

Merubah budaya itu, menurutnya tidak hanya dilakukan dengan cara memberikan sosialisasi atau edukasi yang hanya dilakukan di momen-momen tertentu. Tetapi, pemberian edukasi dengan cara rutin oleh semua pihak dan dukungan pemerintah.

Ia mencontohkan, di Kabupaten Tolitoli misalnya. Sebagai upaya untuk merubah budaya membuang sampah disembarang tempat, para pemerhati lingkungan di Kabupaten Tolitoli rutin setiap pekannya memberikan edukasi dengan melakukan aksi pungut sampah hingga ke pesisir pantai.
Pada akhirnya, aksi para pemerhati lingkungan di Kabupaten Tolitoli itu pun mendapat perhatian serta dukungan dari pemerintah setempat.

Bahkan, setiap hari Jum’at dalam sepekan, pemerintah menjadwalkan kegiatan bakti sosial dengan melibatkan seluruh masyarakat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi TNI-Polri, Pemerintah Kelurahan (Pemlur) hingga Pemerintah Desa (Pemdes).

Tidak sampai disitu, pemerintah di Kabupaten Tolitoli pun memberlakukan aturan bagi siapa pun yang sengaja membuang sampah disembarang tempat akan dikenakan sanksi sosial.
Bagi masyarakat yang kedapatan membuang sampah disembarang tempat tidak akan dilayani saat mengurus administrasi yang ditangani pemerintah.

“Mereka yang dikenakan sanksi itu, baru bisa dilayani jika sudah membuat surat pernyataan untuk tidak lagi membuang sampah disembarang tempat,” kata Eki, belum lama ini.

Menurutnya, untuk menerapkan hal serupa di Parigi Moutong, harus diawali dengan melakukan survei yang melibatkan para pemerhati lingkungan, yang diawali dari tingkat Pemerintah Kecamatan maupun Pemlur atau Pemdes.

Survei itu, kata dia, bertujuan mengukur sejauh mana tingkat kesadaran masyarakat di suatu wilayah untuk tidak membuang sampah disembarang tempat atau di laut.

Setelah itu, barulah dilakukan pemberian edukasi terhadap masyarakat secara rutin.

Namun, kegiatan seperti itu, secara perlahan perlu mendapat dukungan dengan penyediaan fasilitas penanganan sampah, baik tong-tong sampah atau kendaraan operasional pengangkut sampah seperti yang pernah diterapkan Pemlur Bantaya.

“Awalnya, masyarakat di Kabupaten Tolitoli itu memiliki budaya yang sama dengan masyarakat di Parigi Moutong yang membuang sampah disembarang tempat. Tapi dengan upaya merubah yang dilakukan secara terus menerus, budaya buruk itu hilang dan masyarakatnya pun sekarang sadar akan pentingnya kebersihan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu masalah masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah disembarang tempat di Parigi Moutong ini, karena kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap lingkungan.

Sedangkan para pemerhati lingkungan sendiri sudah kerap kali dan hingga saat ini terus melakukan kegiatan pemberian edukasi untuk merubah budaya masyarakat yang membuang sampah disembarang tempat.

“Di Kabupaten Tolitoli itu, awalnya para pemerhati lingkungan yang rutin setiap pekan memberikan edukasi terhadap masyarakatnya. Alhamdulillah, sekarang masyarakatnya sadar dan pemerintahnya pun sudah mendukung dengan memberikan perhatian penuh terhadap lingkungan. Semoga Parigi Moutong bisa seperti itu,” tandasnya.

Laporan : Roy Lasakka

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Open Donasi