Satgas Covid-19 Parigi Moutong Pastikan Hasil Pemeriksaan Pasien Terpapar Bukan Rekayasa

Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Parigi Moutong, Irwan. (Foto: Novita Ramadhan)

JURNAL LENTERA – Juru bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Irwan, S.K.M, M.Kes., menegaskan hasil pemeriksaan test swab PCR terhadap pasien terpapar corona yang menjalani perawatan disejumlah fasilitas kesehatan bukan rekayasa.

“Tidak ada untungnya bagi tenaga medis maupun Pemerintah Daerah (Pemda) untuk merekayasa hasil pemeriksaan test swab PCR terhadap pasien Covid-19,” tegas Irwan, belum lama ini.

Dia mengatakan, sejauh ini banyak anggapan masyarakat yang menyebutkan hasil pemeriksaan test swab PCR direkayasa.
Sehingga, muncul pula anggapan bahwa masyarakat yang dinyatakan positif terpapar dari hasil test swab PCR tidak benar atau sengaja didiagnosa Covid-19.

Padahal, dominan masyarakat yang melakukan testimoni tentang Covid-19 menyatakan sangat menderita pada saat terpapar.

“Virus corona itu, benar ada dan jangan diabaikan. Lihat saja dampak yang diakibatkan pandemi Covid-19, segala sektor lumpuh,” katanya.

Menurutnya, setiap tenaga medis mengalami kesulitan pada saat menggunakan Alat Pelindung Diri atau APD.
Profesi sebagai tenaga medis, kata dia, tidak seimbang dengan insentif yang diterima.

Selain itu, seorang tenaga medis sama seperti masyarakat pada umumnya yang juga memiliki aktifitas lainnya diluar profesinya.
Namun, para tenaga medis justru memilih meninggalkan aktifitasnya diluar profesinya demi menangani pasien Covid-19.

“Bahkan aktifitas para tenaga medis terbatas. Untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga secara langsung pun sangat sulit,” ucap Irwan.

Dia menambahkan, pemerintah sesungguhnya menginginkan Parigi Moutong terbebas dari Covid-19.
Sebab, situasi pandemi yang berkepanjangan membuat banyak kalangan menderita.

Bahkan, dilingkup pemerintahan pun, mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19. Banyak program-program seharusnya dilaksanakan untuk pembangunan daerah, dan pemberdayaan masyarakat terpaksa ditunda.

“Dana untuk penanganan virus ini tidak ada sebenarnya. Tetapi, anggaran yang seharusnya untuk pembangunan daerah atau pemberdayaan masyarakat terpaksa dialihkan khusus penanganan Covid-19. Itu karena sangat seriusnya pemerintah menghadapi pandemi,” pungkasnya.

Dia berharap, masyarakat dapat bekerjasama dengan Pemda dalam melakukan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dengan tetap taat terhadap protokol kesehatan.
Sebab, penyebaran virus ini, kata dia, sulit untuk diprediksi dan setiap saat jumlah kasusnya akan terus bertambah.

Dia menyebutkan, jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Parigi Moutong sejak tahun 2020, sebanyak 1.683 kasus dengan jumlah meninggal dunia 40 orang.

“Dua pekan belakangan ini, jumlah kasus Covid-19 terus bertambah banyak. Pada pekan sebelumnya tercatat sebanyak 40 kasus yang ternyata terus bertambah hingga 75 kasus,” tandasnya.

Laporan : Roy Lasakka

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Open Donasi