Ini Penyebab Capaian Vaksinasi COVID-19 di Parigi Moutong Rendah

ILUSTRASI. (Liputan6.com)

JURNAL LENTERA – Capaian vaksinasi COVID-19 di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, disebut sangat rendah akibat faktor jumlah penduduk yang banyak dan letak geografisnya.

“Penyebab vaksinasi COVID-19 di Parigi Moutong baru sekian persen karena sebaran penduduknya sangat luas dengan letak wilayah yang panjang dan jumlah penduduk banyak. Hal itu tidak menjadi masalah, karena kami memakluminya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah, I Komang Adi Sujendra, saat dihubungi via telepon seluler pada Sabtu, 11 September 2021.

Dia mengatakan, target sasaran pelaksanaan vaksinasi telah ditetapkan oleh pemerintah pusat yang setiap daerahnya berbeda-beda, tergantung besarnya kepadatan penduduk dalam sebuah wilayah.

Sama halnya di Provinsi Sulawesi Tengah, kata dia, sasaran vaksinasinya pun berbeda-beda antar kabupaten/kota, termasuk Parigi Moutong yang diketahui merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penduduk sangat besar.

Dia memastikan, Parigi Moutong akan menghadapi tantangan cukup berat karena memiliki wilayah dengan bentangan sangat panjang, mulai dari Kecamatan Moutong hingga Sausu.

Bahkan, sebaran penduduk dalam satu kecamatan atau desa pun berbeda-beda.

Sehingga, kecepatan capaian vaksinasinya tidak semudah wilayah yang sebaran penduduknya berkumpul secara merata seperti di Kota Palu.

Menurutnya, capaian vaksinasi Kota Palu lebih tinggi, karena penduduknya dikategorikan terkumpul.

Selain itu, capaian vaksinasi juga tergantung dari tenaga vaksinator dan ketersediaan vaksin.

Terkait ketersediaan vaksin, kata dia, diakuinya sempat terganggu dalam hal pendistribusian dari pemerintah pusat.

Apalagi, diketahui vaksinasi bukan hanya dilakukan oleh dinas terkait saja, namun juga dilakukan secara bersamaan antara pemerintah, TNI dan Polri yang tetap akan berjalan seperti itu hingga kedepannya.

“Tapi sekarang sudah mulai lancar, mulai dari sekitar bulan Agustus. Dan mulai didistribusikan ke seluruh wilayah. Namun hasilnya untuk mencapai 40 persen dan seterusnya tidak mudah,” tandasnya.

Apalagi, pendistribusian vaksin dari pemerintah pusat pun sudah tertera label nama daerah masing-masing, karena tidak lagi diatur atau ditentukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov).

Hanya saja, jika vaksin di kabupaten dapat segera  dihabiskan, tidak menutup kemungkinan akan diberikan penambahan.

Dia menyarankan, disamping persoalan ketersediaan vaksin, tenaga vaksinator pun dioptimalkan dengan memanfaatkan relawan seperti di Kota Palu.
Bahkan, harus terus meningkatkan kerjasama dengan TNI dan Polri.

Tidak hanya itu, harus pula meningkatkan sasaran vaksinasi terhadap usia remaja atau anak sekolah.

Apalagi proses pembelajaran tatap muka akan dimulai.
Menurutnya, sasaran tersebut dapat dijangkau saat berada di satuan pendidikan atau mengunjungi rumah-rumah peserta didik, sehingga dapat mencapai target perharinya.

“Vaksinasi ini dicanangkan pada Januari, dan baru dimulai pada bulan Februari 2021. Sasarannya kemarin baru tenaga kesehatan, berjalanan kurang lebih dua bulan. Lalu disusul lagi pelayanan publik, memakan waktu juga. Jadi untuk capaian lainnya terlihat kecil,” pungkasnya.

Laporan : Novita Ramadhan

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan

Open Donasi